RSS

Masih Dalam Skenario




 
 
                Pagi itu mentari malu-malu menonjolkan senyumnya. Jarum jam menunjukan angka delapan lebih sepersekian menitan. Jalan Godean bangjo Demak ijo ketimuran. Depan teras toko kamera yang Alhamdulillah belum keinget juga namanya. Kududuk bersila sambil menanti tokonya buka.

Yang Disemogakan


    
        Hati ini memang masihlah mengkeret seperti buah kurma. Yang belum juga bisa mengerti hati manusia lainnya, terkhusus wanita sepertimu. Hati ini masihlah egois yang hanya memikirkan perasaannya sendiri tanpa berusaha berpikir panjang bagaimana dengan yang kau rasakan? Saya gak pernah yakin memang, apakah saya sudah melakukan yang tepat untuk tidak memberikan keyakinan padamu saat ini? Hanya karena sebuah pendengaran ini yang pernah menangkap sedikit prinsip dan target yang secara malu-malu kau mengutarakannya. Tapi saya juga tau, saat ini saya bukanlah laki-laki yang tepat buat kamu. Kau yang seperti kupu-kupu, indah dan memiliki metamorfosa yang sempurna sedangkanku belum juga bisa menjadi bunga yang layak untuk kehidupanmu.

Dan Ketika



            Bus pariwisata yang berisikan keluarga dan orang-orang tercinta. Pelan-pelan berjalan pulang mengikuti derasnya arus lalulintas jalan Magelang-Jogja. Susah, suka, pusing, ceria, cinta dan bahagia pun kini menjadi tinta kesan yang tumpah berceceran membekas indah didalam pikiran. Lelah pun tak tertahankan. Sejenak kurebahkan badan di kursi paling belakang sambil melihat bayang-bayang tinta kesan yang semakin jelas membekas indah didalam pikiran.