RSS

Aku Kan Selalu Mendoakanmu Meski Kau Bukan Jodohku



ketahuilah saya ini joko wihardi, sosok pemuda yang masih jauh banget untuk dibilang baik, gagah, gentle, tanggung jawab apalagi sukses. Saya ini hanyalah sosok manusia yang ga bisa apa-apa terkecuali dengan bantuan Allah Subhana Wata'ala.


Saya hanyalah anak manja yang tak mau lepas dari  kedua orang tua dan selalu minta perlindungan-Nya. Saya ini ndak bisa apa-apa terkecuali hanya bisa mengadu kepada-Nya.
Saya juga manusia biasa sama halnya seperti mereka yang tak lepas dari cinta, dan saya mencintai fitria entah karena kecantikannya atau apa dan bagaimana, disini saya tak bisa menyimpulkannya. Dan saya begitu mengharapkannya tapi disini saya pun tak bisa apa-apa, tanpa-Nya kata-kata pun susah terungkap dari mulut saya apalagi untuk bisa menghadirkan raga saya untuk silaturahmi kekeluarganya.

Mabrur Itu Ndak Harus Sampai Makkah

"HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN
Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi [1] ulama
terkenal di makkah yang menceritakan riwayat
ini.
Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka,
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya
malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya
diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya.
“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”
Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar
cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah[2], tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”
Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.